Ketimpangan Air Bersih di Kota Besar: Cerita dari Ujung Selang hingga Sumur Retak
Air di kota besar mengalir deras—melintasi pipa-pipa beton, meluncur di keran-keran mewah—namun di balik gemericik itu, masih ada tetes kering yang terbuang sia-sia. Seperti tulang retak di bawah daging, ketersediaan air bersih di kota besar Indonesia menyimpan jurang antara yang “cukup” dan yang “teramat kurang”.
Jakarta: Hampir “Sempurna”, Namun Bernoda
Di atas kertas, Jakarta membanggakan capaian 99,96% rumah tangga dengan akses air minum layak—angka hampir sempurna. Namun di pesisir utara, air keran berasa logam akibat intrusi air laut. Groundwater yang selama 18 tahun diambil terus-menerus kini penuh polutan; 80% tidak memenuhi standar kesehatan. Ketika gedung-gedung mewah meneguk air jernih, sumur kampung tua menjerit menunggu perbaikan pipa dan manajemen air yang merata.
Surabaya: Di Balik 100% Jaringan, Ada Yang Kelaparan Air
Surabaya menorehkan 100% jangkauan PDAM dan aliran 24 jam nonstop. Angka itu bagai piring penuh, namun di gang sempit masih ada ember menunggu tetes-tetes air bersih. Meski pipa tua diperbarui, warga berpendapatan rendah bergantung pada sumur—yang jauh dari standar higienis—karena biaya pasang sambungan baru masih menjadi kendala.
Defisit Musim Kemarau: Basah Saat Hujan, Panas Saat Kemarau
Saat musim hujan, selokan yang seharusnya menampung air malah penuh sampah dan limbah industri. Kemarau tiba, bendungan kering kerontang, debit sungai tersisa separuh, dan PDAM terpaksa menunda aliran. Langit kota tetap biru cerah, tanpa setetes embun turun ke keran-keran yang kering.
Sebuah Nirupa Keadilan Air
Bayangkan seorang bapak tua di pinggir kota, memanggul jeriken menampung air dari truk tangki seminggu sekali. Ia memandangi keran kosong, lalu menoleh ke hamparan gedung tinggi, seakan berkata, “Kalian punya air layak, kami hanya punya harapan.” Dalam selembar koran, penulis kolom menorehkan metafora getir tentang selang merah dan sumur retak—bahwa air boleh mengalir deras di kota megah, namun keadilan air menetes pelan di celah-celah kemiskinan.
“Air bukan sekadar cairan, melainkan cermin keadilan; bila satu tetes pun terampas, wajah kota besar kita tergores noda ketimpangan.”
Kota besar telah merdeka dari kemunduran—tapi belum merdeka dari ketimpangan air. Saatnya menyusun strategi, menggali sumur kemitraan, merestorasi pipa keadilan, agar selang air tak lagi memilih kalangan. Dengan begitu, cerita air bersih kita akan tuntas, tanpa ujung yang retak.